Di sebuah desa yang asri, hiduplah seekor tupai kecil bernama Kiki. Kiki dikenal sebagai tupai paling malas di hutan. Setiap hari, ia hanya menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan, tiduran di dahan pohon, dan tidak pernah mau membantu tupai-tupai lain mengumpulkan kacang.
Saat musim gugur tiba, tupai-tupai lain mulai sibuk bekerja. Mereka mengumpulkan kacang dan buah-buahan untuk persediaan makanan selama musim dingin. Kiki hanya melihat saja sambil menguap lebar. "Ah, masih banyak waktu," pikirnya. Ia kembali tidur dan mengabaikan nasihat dari teman-temannya.
Suatu hari, Kiki bertemu dengan seekor semut pekerja bernama Susi. Susi berjalan dengan tergesa-gesa sambil memanggul sebutir kacang yang lebih besar dari tubuhnya.
"Kenapa kamu buru-buru sekali, Susi?" tanya Kiki.
"Aku harus mengumpulkan makanan sebelum musim dingin tiba, Kiki. Nanti, kalau tidak ada persediaan, kita bisa kelaparan," jawab Susi dengan suara terengah-engah.
Kiki hanya tertawa. "Musim dingin masih lama. Santai saja," ucapnya.
Susi menggelengkan kepalanya. "Rajin pangkal kaya, malas pangkal miskin, Kiki," katanya, lalu melanjutkan perjalanannya.
Kiki tidak peduli. Ia kembali bermalas-malasan, sampai akhirnya ia tidak sadar kalau hari sudah sangat gelap dan udara terasa sangat dingin. Musim dingin telah tiba!
Saat Kiki terbangun, ia merasa sangat lapar. Ia mencari-cari kacang di sekitar pohonnya, tapi tidak ada satu pun. Salju sudah menutupi semuanya. Kiki mulai panik. Ia kedinginan dan kelaparan.
Dengan langkah gontai, Kiki mendatangi rumah Susi. Ia melihat Susi dan keluarganya sedang makan dengan lahap. Mereka memiliki banyak persediaan makanan.
Kiki merasa sedih. Ia akhirnya mengerti ucapan Susi. Karena malas, ia tidak memiliki apa-apa. Karena rajin, Susi dan tupai-tupai lain bisa hidup nyaman.
Kiki berjanji dalam hatinya untuk tidak pernah malas lagi. Ia akan selalu rajin bekerja. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Sejak saat itu, Kiki menjadi tupai yang paling rajin. Ia selalu membantu teman-temannya, dan tidak pernah lagi menunda pekerjaan. Kiki menjadi bahagia karena ia tahu bahwa dengan rajin, ia bisa mencapai apa pun yang ia inginkan.
Pesan moral dari cerita ini: Dengan rajin, kita bisa mencapai semua yang kita inginkan dan tidak akan kekurangan. Sebaliknya, sifat malas hanya akan membawa kesusahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar