Di sebuah hutan yang rindang, hiduplah seekor tupai kecil bernama Miko. Miko sangat suka melompat dari satu dahan ke dahan lain. Ekornya yang lebat selalu melambai riang di udara. Walaupun kecil, Miko punya hati yang besar dan baik.
Suatu pagi yang cerah, Miko melihat sesuatu yang berkilau di bawah pohon ek. "Wah, biji hazelnut!" seru Miko kegirangan. Biji itu terlihat sangat besar dan menggiurkan. Miko segera turun, mengambilnya, dan bersiap membawanya ke sarangnya.
Saat Miko memeluk erat biji hazelnut itu, ia mendengar suara tangisan. "Hiks... hiks..."
Miko celingak-celinguk mencari sumber suara. Di balik semak-semak, ia melihat seekor burung pipit yang sayapnya terluka. Burung pipit itu bernama Pipit. Pipit tampak sangat sedih. "Aku lapar sekali," rintih Pipit. "Aku sudah mencoba mencari makan, tapi sayapku sakit sekali."
Miko memandang biji hazelnut di tangannya, lalu menatap Pipit. Biji ini adalah makanan paling enak yang pernah ia temukan, tetapi Pipit terlihat sangat kelaparan. Miko teringat pesan ibunya, "Berbagi dengan orang lain itu lebih membahagiakan, Miko."
Tanpa ragu, Miko memecahkan biji hazelnut itu menjadi dua bagian. "Pipit, ini untukmu," kata Miko lembut sambil menyodorkan separuh biji hazelnut. "Semoga ini bisa mengganjal perutmu."
Mata Pipit berbinar-binar. Ia mematuk biji hazelnut itu dengan gembira. "Terima kasih, Miko! Kau sangat baik!"
Setelah Pipit selesai makan, Miko menolong Pipit untuk bersandar di batang pohon yang nyaman. Miko bahkan mengambil beberapa daun lebar untuk menutupi Pipit dari terik matahari.
Kebaikan Miko tidak berhenti di situ. Hari-hari berikutnya, Miko selalu mengunjungi Pipit, membawakan buah beri, dan menemaninya sampai sayap Pipit pulih. Pipit pun bisa terbang lagi! Ia mengepakkan sayapnya di udara, berputar-putar di atas kepala Miko.
"Miko, kau adalah teman terbaikku!" cicit Pipit dari atas.
Miko tersenyum lebar. Hatinya terasa hangat. Ia tidak merasa kehilangan biji hazelnut yang ia berikan pada Pipit. Justru ia merasa sangat bahagia karena bisa membantu temannya. Miko menyadari, berbuat baik itu seperti menanam benih kebahagiaan. Ketika kita memberi, kebaikan itu akan tumbuh dan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan yang tulus.
Sejak saat itu, Miko dan Pipit menjadi sahabat sejati. Mereka selalu saling membantu dan berbagi, membuat hutan kecil mereka menjadi tempat yang lebih bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar